Kisah Suleiman Kerimov, Gaji Kecil hingga Jadi Raja Emas Rusia dengan Harta Ratusan Triliun

2 hours ago 2

Jakarta -

Nama Suleiman Kerimov dikenal sebagai salah satu orang terkaya di dunia. Pengusaha asal Rusia ini dijuluki 'raja emas' karena sebagian besar kekayaannya berasal dari kepemilikan saham di perusahaan tambang emas raksasa Polyus.

Menurut data Forbes per 15 Maret, total kekayaan Kerimov dan keluarganya mencapai US$25,7 miliar atau sekitar Rp435,87 triliun. Jumlah tersebut membuatnya berada di posisi ke-95 orang terkaya di dunia.

Lahir dari Keluarga Sederhana

Kerimov lahir di Dagestan, wilayah yang dulu masih bagian dari Uni Soviet, pada 12 Maret 1966. Ia berasal dari etnis Lezgin yang tinggal di daerah Derbent, Dagestan.

Ia dibesarkan dalam keluarga Muslim kelas menengah. Ayahnya bekerja sebagai pengacara yang menangani kasus kriminal di kepolisian, sedangkan ibunya bekerja sebagai akuntan di sebuah bank.


Setelah lulus sekolah menengah pada 1983, Kerimov melanjutkan pendidikan di Institut Politeknik Dagestan. Namun, studinya sempat tertunda karena ia harus menjalani wajib militer selama dua tahun.

Pada 1986, ia kembali melanjutkan kuliah di Universitas Negeri Dagestan dengan mengambil jurusan akuntansi, keuangan, dan ekonomi.

Saat kuliah, Kerimov dikenal sebagai mahasiswa aktif. Ia bahkan pernah menjadi Wakil Ketua Komite Serikat Pekerja kampus. Di masa kuliah itu pula ia bertemu dengan wanita yang kemudian menjadi istrinya, Firuza, putri seorang mantan pemimpin serikat buruh.

Karier Dimulai dari Gaji Kecil

Setelah lulus kuliah, Kerimov memulai kariernya sebagai ekonom di perusahaan listrik Eltav yang berada di ibu kota Dagestan, Makhachkala.

Saat itu gajinya hanya sekitar 150 rubel per bulan, dan ia bersama keluarganya harus tinggal di apartemen kecil yang dibagi dengan orang lain.

Namun kariernya berkembang cukup cepat. Ia berhasil naik jabatan hingga menjadi Deputi Direktur Jenderal di perusahaan tersebut.

Perbaikan kondisi ekonomi keluarganya membuat Kerimov mulai tertarik dengan peluang investasi, terutama setelah runtuhnya Uni Soviet yang membuka banyak kesempatan bisnis baru.

Awal Mula Jadi Konglomerat

Naluri bisnis Kerimov mulai terlihat saat ia terlibat dalam kerja sama antara Eltav dan Fedprombank yang memberikan pinjaman kepada berbagai perusahaan utilitas.

Dari kerja sama tersebut, Kerimov akhirnya ikut masuk sebagai kreditur di Fedprombank. Ketika ekonomi Rusia mulai stabil dan berbagai pinjaman dilunasi, ia meraih keuntungan besar.

Pada 1995, Kerimov menjadi kepala perusahaan perbankan dan perdagangan Soyuz-Finans. Dalam dua tahun, ia berhasil menguasai 50 persen saham Vnukovo Airlines dan menggunakan keuntungannya untuk mengambil alih Fedprombank.

Namanya semakin dikenal di dunia bisnis setelah membeli 55 persen saham perusahaan minyak Nafta Moskva seharga US$50 juta. Setahun kemudian, ia bahkan berhasil mengambil alih seluruh perusahaan tersebut.

Alih-alih fokus di bisnis minyak, Kerimov mengubah Nafta menjadi perusahaan investasi dan holding.

Melalui perusahaan itu, ia mengakumulasi saham di berbagai perusahaan besar Rusia seperti Sberbank dan Gazprom pada 2004.

Pernah Mengalami Kecelakaan Parah

Pada 2006, perjalanan hidup Kerimov sempat berubah setelah mengalami kecelakaan serius saat mengendarai mobil Ferrari di kota Nice, Prancis. Ia mengalami luka bakar dan harus menjalani perawatan intensif.

Setelah kejadian tersebut, ia mulai aktif melakukan kegiatan amal, salah satunya dengan membantu organisasi Pinocchio yang fokus pada anak-anak korban luka bakar.

Pada 2007, ia juga mendirikan Yayasan Suleiman Kerimov yang bertujuan membantu meningkatkan kualitas hidup generasi muda di Rusia.

Bangkit dari Krisis dan Kuasai Bisnis Emas

Kerimov sempat memperluas investasinya ke luar negeri dan membeli saham sejumlah bank global seperti Morgan Stanley, Goldman Sachs, dan Deutsche Bank.

Namun krisis keuangan global membuatnya hampir kehilangan banyak aset.

Kerimov akhirnya bangkit setelah membeli 37 persen saham Polyus pada 2009 dari taipan Rusia Vladimir Potanin.

Dengan investasi sekitar US$1,3 miliar yang didukung pinjaman dari bank milik negara VTB Bank, nilai saham perusahaan emas tersebut kemudian melonjak hingga delapan kali lipat.

Pada 2015, sebagian saham Polyus dialihkan kepada putranya, Said Kerimov. Langkah ini diambil setelah pemerintah Rusia melarang politisi memiliki aset keuangan di luar negeri.

Selain sebagai pengusaha, Kerimov juga menjabat sebagai senator di Dewan Federasi Rusia yang mewakili wilayah asalnya, Dagestan, sejak 2008.

Pernah Tersandung Kasus dan Sanksi

Perjalanan Kerimov tidak selalu mulus. Pada 2017, ia sempat ditangkap di Bandara Nice, Prancis karena diduga terlibat dalam kasus penggelapan pajak terkait pembelian properti mewah di French Riviera melalui perusahaan cangkang.

Pada Juni 2018, tuduhan tersebut dibatalkan. Namun pada Maret 2019, jaksa Prancis kembali melakukan penyelidikan terkait dugaan penipuan pajak. Kerimov kemudian dibebaskan dengan jaminan sebesar 20 juta euro.

Ia juga pernah terkena sanksi dari Amerika Serikat melalui undang-undang Countering America's Adversaries Through Sanctions Act (CAATSA), bersama sejumlah oligarki Rusia lainnya.

Selain itu, pemerintah Inggris juga menjatuhkan sanksi kepadanya setelah pecahnya Perang Rusia-Ukraina pada 2022.

Bangun Simbol Perdamaian Antaragama

Nama Kerimov kembali menjadi sorotan setelah mendanai pembangunan kompleks sinagoge di kota bersejarah Derbent, Dagestan, pada 2025.

Kompleks rumah ibadah tersebut dibangun berdampingan dengan masjid sebagai simbol perdamaian antarumat beragama.

Saat ini, Kerimov tinggal di Moskow bersama istrinya, Firuza Kerimov. Mereka memiliki tiga anak, yaitu Said Kerimov, Gulnara Kerimova, dan Amina Kerimova, yang kini mulai terlibat dalam pengelolaan bisnis keluarga.

(yoa/fik)

Loading ...

Read Entire Article
Industri | Energi | Artis | Global