Sering Jadi Lalapan Favorit, Ternyata Tidak Semua Orang Cocok Makan Kol

6 hours ago 6

Jakarta -

Kol atau kubis menjadi salah satu sayuran yang paling sering ditemui di meja makan masyarakat Indonesia. Sayuran ini bisa dinikmati dalam berbagai bentuk, mulai dari lalapan, tumisan, campuran mi goreng, hingga pelengkap bakwan dan gorengan.

Selain rasanya yang segar, kol juga dikenal kaya nutrisi. Sayuran ini mengandung serat, vitamin C, vitamin K, serta berbagai antioksidan yang baik untuk kesehatan tubuh. Karena rendah kalori, kol juga sering masuk dalam menu diet sehat.

Namun, meski memiliki banyak manfaat, kol ternyata tidak selalu cocok dikonsumsi oleh semua orang. Dalam kondisi kesehatan tertentu, makan kol terlalu banyak justru bisa memicu keluhan yang mengganggu.

Berikut beberapa kelompok orang yang sebaiknya membatasi konsumsi kol atau berkonsultasi terlebih dahulu dengan tenaga medis sebelum mengonsumsinya secara rutin.


1. Orang yang Sedang Mengalami Diare

Kandungan serat yang tinggi membuat kol baik untuk melancarkan pencernaan. Akan tetapi, bagi orang yang sedang diare, konsumsi kol berlebihan justru bisa memperparah kondisi tersebut.

Kol mengandung fruktan, yaitu jenis karbohidrat alami yang juga terdapat pada bawang, gandum, dan brokoli. Pada sebagian orang, fruktan dapat memicu gangguan pencernaan seperti perut mulas, kembung, hingga diare.

Karena itu, saat sedang mengalami masalah pencernaan, sebaiknya konsumsi makanan berserat tinggi seperti kol dikurangi terlebih dahulu sampai kondisi membaik.

2. Penderita Maag, Asam Lambung, atau Gangguan Lambung

Bagi sebagian orang, kol dapat menghasilkan gas berlebih di dalam saluran pencernaan. Akibatnya, perut terasa penuh, begah, atau kembung setelah makan.

Kondisi ini bisa membuat gejala maag maupun GERD (asam lambung naik) menjadi lebih tidak nyaman. Karena itu, penderita gangguan lambung disarankan untuk tidak mengonsumsi kol dalam jumlah berlebihan, terutama jika tubuh mereka sensitif terhadap sayuran jenis kubis-kubisan.

3. Orang yang Akan Menjalani Operasi

Tidak banyak yang tahu bahwa kol dapat memengaruhi kestabilan kadar gula darah dalam tubuh. Hal ini menjadi perhatian khusus bagi pasien yang akan menjalani tindakan operasi.

Karena dikhawatirkan dapat mengganggu pengaturan gula darah selama proses operasi maupun masa pemulihan, beberapa ahli menyarankan untuk menghentikan konsumsi kol sekitar dua minggu sebelum jadwal operasi yang telah ditentukan.

4. Pengguna Obat Pengencer Darah

Kol mengandung vitamin K dalam jumlah cukup tinggi. Nutrisi ini memang penting untuk membantu proses pembekuan darah dan menjaga kesehatan tulang.

Namun, bagi orang yang rutin mengonsumsi obat pengencer darah, asupan vitamin K yang berubah drastis dapat memengaruhi kinerja obat tersebut. Karena itu, penderita yang menjalani terapi pengencer darah sebaiknya berkonsultasi dengan dokter sebelum meningkatkan konsumsi kol secara signifikan.

5. Orang yang Memiliki Alergi terhadap Sayuran Keluarga Kubis

Meski jarang terjadi, alergi terhadap kol tetap bisa dialami sebagian orang. Risiko ini lebih tinggi pada mereka yang memiliki alergi terhadap sayuran dari keluarga Brassicaceae atau Cruciferae, seperti brokoli, kembang kol, dan kubis Brussel.

Gejala alergi dapat berupa gatal-gatal, ruam kulit, pembengkakan, hingga gangguan pernapasan pada kasus yang lebih serius. Jika mengalami gejala tersebut setelah mengonsumsi kol, segera hentikan konsumsi dan periksakan diri ke dokter.

(yoa/yoa)

Loading ...

Read Entire Article
Industri | Energi | Artis | Global