Jakarta -
Emiten Grup Bakrie, PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) meningkatkan pasokan bus listrik untuk mendukung ekosistem transportasi rendah emisi di Indonesia. Salah satu yang dibidik adalah memasok bus listrik untuk TransJakarta.
Tahun ini VKTR berencana merakit 80 unit bus listrik untuk TransJakarta, bertambah dari tahun 2024 yang sebanyak 20 bus.
"Kemudian ada 20 unit kita jual ke TransJakarta melalui operatornya PT Sinar Jaya Megah Langgeng, Kemudian tahun ini kita akan harus rakit lagi dan suplai untuk kepentingan TransJakarta juga sekitar 80 unit, dan lain-lain," ujar Direktur VKTR Achmad Amri Aswono Putro, di Jakarta Senin (24/3/2025)
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
VKTR juga sudah diminta merakit bus listrik untuk menggantikan bus diesel yang akan berhenti melayani.
"Minggu lalu Gubernur Jakarta (Pramono Anum) menyampaikan akan memperluas jaringan bus listrik ke TransJabodetabek. Jadi ini akan ada tambahan-tambahan lagi di luar yang sudah direncanakan di awal 200 bus (listrik) itu. Karena bus yang medium pun yang 8 meter kami juga diminta sesegera mungkin uji coba," ujar Direktur VKTR Bimo Kurniatmoko.
Sebagai informasi, TransJakarta berencana menambah 200 unit bus listrik tahun 2025 yang dimulai pada Juli hingga akhir 2025. Penambahan ini merupakan tahap lanjutan setelah tahun lalu TransJakarta mengoperasikan 300 unit bus listrik.
Bus listrik VKTR untuk TransJakarta sendiri diklaim satu-satunya yang dirakit di dalam negeri dengan sertifikat TKDN lebih dari 40%. Secara total ada 84 bus listrik milik VKTR yang sudah mengaspal di berbagai perusahaan dengan rata-rata jarak tempuh per hari 210 km dan mengangkut sekitar 10 juta penumpang.
Selain untuk TransJakarta, VKTR juga menyuplai 14 truk listrik yang beroperasi di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur. Rincian truk tersebut adalah model compactor 12 unit, model arm roll 1 unit, dan model dump 1 unit yang dioperasikan untuk Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) 1 IKN.
Bimo menyebut operasional truk listrik di IKN cenderung mendukung karena infrastrukturnya memang dibangun untuk mendukung kendaraan listrik. Hanya terdapat tantangan menyangkut tingginya biaya logistik dari tempat perakitan ke IKN.
"Hanya challenge-nya karena kami rakitnya di Magelang, mengirimkan ke sana effort-nya luar biasa. Biaya logistik di Indonesia kan jadi salah satu tantangan. Mungkin biaya logistik dari luar ke Indonesia vs dalam negeri sendiri bisa jadi lebih murah dari luar Indonesia," tutur Bimo.
Sementara itu, Wakil Direktur Utama Bakrie & Brothers (Induk usaha VKTR) Ardiansyah Bakrie menyebut pihaknya berkomitmen mendorong ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Ia juga meminta dukungan pemerintah, terlebih karena pihaknya sudah melakukan perakitan kendaraan di dalam negeri.
"Yuk kita sama-sama majuin sesuatu yang produk dalam negeri, di mana kita pun sudah membuat 98% untuk merakit di sini. Tapi walaupun adanya Keppres, hal tersebut masih banyak dijalankan tidak melalui proses ini. Masih CBU masih diterima, sehingga menurut kami ya susah juga kalau kita mau bantu maju tapi tidak mendapatkan dukungan," beber Ardi.
Di sisi lain, CEO VKTR Gilarsi Wahju Setijono menyebut salah satu tantangan terbesar perusahaan adalah bersaing dengan produsen-produsen kendaraan berbasis diesel. Apalagi hingga saat ini pemerintah masih memberikan subsidi untuk Solar dengan nilai yang cukup besar. Menurutnya harga solar yang dibanderol Rp 6.800 per liter telah disubsidi dari harga aslinya sekitar Rp 14 ribuan.
"Perjuangan paling besar buat kita hari ini adalah belum bisa bersaing dengan kendaraan komersil berbasis diesel adalah harga diesel yang super murah," tutur Gilarsi.
(ily/hns)