Jakarta -
Nama Robbie Williams tak bisa dilepaskan dari kejayaan boyband legendaris Take That di era 90-an. Namun, di balik gemerlap ketenaran, tersimpan kisah gelap yang nyaris menghancurkan hidupnya.
Williams secara jujur mengungkap masa-masa ketika ia tenggelam dalam depresi dan kecanduan alkohol di usia yang sangat muda.
Pengakuan itu disampaikan dalam dokumenter terbaru Take That yang tayang perdana di Netflix pada Selasa, 27 Januari 2026.
Dalam film tersebut, Williams mengenang periode paling berat saat kariernya sedang berada di puncak.
Robbie Williams mengaku tekanan mental yang ia rasakan kala itu begitu besar hingga membuatnya kehilangan kendali atas hidupnya sendiri.
"Saya sangat depresi," ujar Williams.
"Saya kembali ke hotel, menenggak sebotol vodka murni. Dan saya hanya minum sampai mabuk berat," sambungnya.
Williams menyebut kondisi tersebut terjadi ketika usianya masih sangat muda.
"Saat itu saya berusia 19 atau 20 tahun, dan saya sedang berada di puncak kecanduan alkohol," katanya.
"Saat itu kondisi alkoholisme saya sedang sangat buruk," sambungnya.
Williams juga mengungkap betapa parah ketergantungannya pada alkohol saat itu. Ia bahkan mengaku tidak mampu menjalani aktivitas normal tanpa minum terlebih dahulu.
"Saya tidak bisa bangun atau memulai hari tanpa mungkin menenggak sebotol vodka," ungkapnya.
Kondisi fisik dan mentalnya semakin memburuk, bahkan memengaruhi kemampuannya bekerja bersama band.
"Tubuḥku akan penuh dengan kotoran, dan kepalaku akan sakit. Dan aku tidak bisa menerima informasi dengan baik sekalipun," kata Williams saat mengenang dirinya datang ke latihan dalam keadaan tidak layak tampil.
Dalam dokumenter tersebut, para personel Take That juga turut membagikan perspektif mereka. Gary Barlow mengaku merasa bersalah karena tidak cukup peka melihat kondisi Williams saat itu.
"Tidak ada yang melihat ke kiri dan ke kanan untuk melihat keadaan orang lain. Kami hanya terus maju," kata Barlow.
Howard Donald mengenang perubahan sikap Williams di atas panggung.
"Dia memang terlihat seperti sedang mengonsumsi sesuatu," ujar Donald, yang melihat Williams tampil dengan energi berlebihan dan mata yang terus terbuka lebar.
Sementara itu, Jason Orange menyebut Williams menjadi lebih agresif, pemberontak, dan mulai kehilangan ketertarikan terhadap band.
Tekanan mental, kecanduan, dan konflik internal akhirnya mencapai titik puncak pada tahun 1996, saat Robbie Williams memutuskan keluar dari Take That.
"Tiba-tiba ada sesuatu yang putus di kepala saya," kata Williams, mengenang momen ketika ia merasa tidak mampu melanjutkan kebersamaan dengan band.
Keputusan itu menjadi awal perjalanan panjang Williams menghadapi kecanduan dan kesehatan mental di tengah sorotan publik.
Setelah bertahun-tahun berpisah, Williams sempat kembali bergabung dengan Take That pada 2010 setelah berdamai dengan para personel.
Namun, kebersamaan itu tidak berlangsung lama. Setahun kemudian, ia kembali meninggalkan grup tersebut untuk fokus pada karier solo.
Kini, lewat dokumenter ini, Robbie Williams membuka kembali luka lama-bukan untuk mencari simpati, tetapi sebagai pengingat bahwa di balik popularitas besar, ada harga mahal yang pernah harus ia bayar.
(ikh/agn)

6 hours ago
3

















































