Asteroid Berpeluang Tabrak Bumi, NASA Super Waspada

1 day ago 6

Jakarta -

NASA sangat waspada terhadap kedatangan asteroid yang berpeluang menghantam Bumi. Asteroid itu, 2024 YR4, memiliki peluang kemungkinan menghantam bumi tahun 2032. Badan internasional bekerja sama melacaknya dan mencari cara menghancurkannya hingga berkeping-keping jika perlu.

"Tidak ada yang panik, tapi itu pasti yang sedang kami bicarakan di lorong-lorong NASA. Kami tahu punya cukup waktu untuk bertindak, tapi sekaranglah saatnya mulai merencanakan. Anda tidak dapat melakukannya pada menit terakhir," kata seorang manajer proyek di Kennedy Space Center.

NASA mengeluarkan perkiraan mengejutkan yang menyebut kemungkinan tabrakan sebesar 3,1%, atau 1 dari 32, lebih mungkin daripada memilih nomor yang benar pada roulette. Kini, peluangnya diturunkan jadi 1,5% dan mungkin ada fluktuasi lagi.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

YR4 diyakini memiliki lebar 40 - 90meter atau kira-kira seukuran gedung perkantoran besar. Jika terjadi tabrakan, mungkin berdampak di delapan kota terpadat di dunia termasuk Bogota, Lagos, dan Mumbai, India dengan hingga 110 juta orang berpotensi terimbas.

Jika menghantam salah satu kota tersebut, konsekuensinya sangat dahsyat. "Jika menabrak Paris atau London atau New York, pada dasarnya Anda akan menyapu bersih seluruh kota dan sebagian daerah sekitarnya," kata Bruce Betts, kepala ilmuwan Planetary Society.

Jika badan antariksa dunia menentukan asteroid itu akan menghantam Bumi, mereka dapat mengirim roket yang dipersenjatai dengan bahan peledak ke arah batu itu, mengubah lintasannya atau menghancurkannya sepenuhnya.

"Menghancurkannya akan mudah. Tak perlu banyak bahan peledak. Kuncinya adalah mencapainya, dan mengirimkan bahan peledak tepat pada waktu yang tepat, pada sudut yang tepat. Itulah bagian yang sulit," " kata manajer proyek NASA.

Cara menghancurkan asteroid sangat bergantung pada kepadatan dan komposisinya, yang saat ini belum diketahui. Beberapa asteroid terbuat dari batuan dan logam berpori, menyebabkannya mudah hancur, seperti yang meledak di Chelyabinsk, Rusia tahun 2013. Asteroid seperti itu butuh lebih sedikit bahan peledak dari asteroid lain yang lebih padat.

NASA belum berkomentar apakah akan mengirim hulu ledak nuklir atau bahan peledak lain untuk menangkal asteroid semacam ini. Para ahli menyatakan pembicaraan itu mungkin terlalu dini, karena kita masih dalam tahap menunggu dan mengamati.

"Kita akan dapat melacaknya hingga April, dan setelah itu akan terlalu jauh. Namun, kita dapat belajar banyak dalam satu atau dua bulan ke depan, dan mencari tahu apa yang harus dilakukan dari sana," sebut sumber NASA.

NASA telah menghubungi beberapa badan antariksa, termasuk China National Space Administration (CNSA), badan antariksa Rusia Roscosmos, dan Badan Antariksa Eropa (ESA). Mereka juga menghubungi astronom International Asteroid Warning Network untuk memetakan jalur batu tersebut dan menganalisa risikonya menghantam Bumi dengan kecepatan 61.200 km/jam.

Ratusan teleskop diarahkan ke asteroid tersebut, yang saat ini menjauh dalam rute elips yang membawanya lebih dekat ke Matahari. Awalnya, astronom percaya asteroid itu memiliki peluang 1 banding 83 menghantam Bumi saat kembali tahun 2032.

Batu itu akan kembali ke sekitar Bumi pada tahun 2028, memberi para ilmuwan kesempatan lain untuk menghitung ulang peluang dan menentukan apakah batu itu masih mengancam Bumi. Beberapa ilmuwan percaya bahwa peluangnya akan turun drastis dari waktu ke waktu.

Akan tetapi NASA dan lembaga lainnya tidak mau mengambil risiko apa pun. "Apa pun bisa terjadi. Namun kita tetap harus waspada," kata mereka yang dikutip detikINET dari NY Post.


(fyk/rns)

Read Entire Article
Industri | Energi | Artis | Global