Tak Banyak yang Tahu, Pendeta Terkemuka di AS Ini Ternyata Adik Ulama Islam di Indonesia
Prof. Dr. H. Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih akrab dengan Buya Hamka dikenal sebagai salah satu tokoh ulama besar di Indonesia.
Namun siapa sangka, Buya Hamka memiliki adik yang memiliki jalan berbeda darinya. Sama-sama menyiarkan agama, tetapi bukan Islam.
Sang adik yang bernama Abdul Wadud Karim Amrullah memilih menjadi seorang pendeta.
Saat ini adik Buya Hamka diketahui memeluk agama Kristen dan menjadi seorang pendeta dengan nama Willy Amrull.
Profil Willy Amrull
Willy Amrull lahir pada 7 Juni 1927 di Kampung Kubu, Sungai Batang, Maninjau, Agam, Sumatera Barat.
Usia Willy dan Buya Hamka berbeda 19 tahun. Ia merupakan saudara seayah, tapi berbeda ibu dari Buya Hamka. Sejak muda, ia sudah berkelana ke Eropa dan Amerika.
Ketika ke luar negeri pada 1947, Willy masih beragama Islam. Di Amerika, ia menikahi perempuan Indo bernama Vera Ellen George yang menjadi mualaf saat mereka menikah di tahun 1970.
Selama bertahun-tahun, Willy aktif dalam kegiatan Islamic Center di Los Angeles. Pada tahun 1977, ia pindah ke Jakarta bersama keluarganya.
Willy kemudian sempat bekerja di biro perjalanan Pacto milik Hasjim Ning di Denpasar. Di Bali, ia dan istrinya memiliki toko yang sering mengalami kecurian.
Keluarga Willy pun mengalami goncangan. Vera ingin kembali memeluk agama Kristen dan kemudian diizinkan oleh Willy.
Akhirnya, Willy sendiri juga memeluk agama Kristen dan dibaptis pada Februari 1983 oleh Pendeta Gereja Baptis Gerard Pinkston di Kebayoran Baru. Hal ini berlangsung hampir dua tahun setelah Buya Hamka meninggal dunia 24 Juli 1981.
Perjalanan Sebagai Pendeta
Willy Amrull adik Buya Hamka/ Foto: dok. Internet
Tak lama setelah dibaptis, Willy pun menjadi pendeta di Gereja Pekabaran Injil Indonesia (GPII) di California.
Sebagai seorang pendeta, salah satu kewajiban utama Willy adalah menyebarkan ajaran agamanya.
Pada tahun 1996, adik Buya Hamka tersebut ditugaskan untuk melakukan syiar agama di kampung halamannya, yakni Sumatera Barat.
Awalnya, Willy tidak langsung memperkenalkan diri sebagai misionaris. Ia mengaku sebagai pengusaha dan bekerja untuk Kedutaan RI di Amerika Serikat.
Saat itu, Willy memakai nama samaran Badru Amrullah. Misinya berjalan lancar berkat Yanuardi Koto, Ketua Persekutuan Kristen Sumatera Barat (PKSB), yang berasal dari Lubuk Basung. Ia juga merupakan seorang pendeta Gereja Protestan Indonesia Barat.
Oleh Yanuardi Koto, Willy diangkat sebagai pembina PKSB dan mereka berhasil merekrut anak-anak muda Minang.
Willy menyebut proses pengkristenan dengan istilah "pemuridan". Ia menjelaskan cukup lengkap tentang berbagai tekniknya dalam buku otobiografinya.
Kasus Wawah
Pada tahun 1998, Yanuardi Koto tersangkut kasus, di mana ia dituding terlibat dalam perkara penculikan gadis 17 tahun bernama Khairiah Enniswah atau Wawah.
Beberapa sumber menyebut bahwa siswi Madrasah Aliyah Negeri 2 Padang ini dijebak dan dikristenkan secara paksa, termasuk dalam buku Islam & Politik karya Deliar Noer.
Nama Pendeta Willy Amrull pun dikaitkan dengan peristiwa itu. Namun, keberadaan Willy tidak diketahui hingga kasusnya disidangkan di Padang. Rupanya, Willy telah kembali ke Amerika.
Willy mencurigai bahwa perkara Wawah sengaja digunakan untuk menjebaknya, sehingga ia buru-buru menghilangkan jejak.
Sejak kasus Wawah tersebut, Willy tidak pernah pulang lagi ke Indonesia hingga meninggal dunia di California pada 25 Maret 2012.

6 hours ago
6

















































