Jakarta -
Ibadah haji bukan sekadar perjalanan fisik menuju Tanah Suci, tapi juga perjalanan batin yang diharapkan membawa perubahan.
Namun dalam realitanya, tidak semua haji berakhir dengan predikat mabrur. Ada sikap-sikap kecil yang sering dianggap sepele, tapi justru bisa menjadi penghalang diterimanya ibadah tersebut.
Melansir detikcom, haji mabrur bukan hanya dilihat dari sahnya rangkaian ibadah, tetapi dari perubahan perilaku setelahnya.
Rasulullah SAW mengatakan bahwa sejatinya seseorang yang baru pulang melakukan ibadah haji bisa menebarkan kebaikan dan kedamaian pada sesama.
Artinya, Rasulullah SAW mengingatkan bahwa nilai haji tercermin dari sikap sosial dan akhlak seseorang.
Lantas, apa yang membuat haji seseorang tidak mabrur?
Mengacu pada penjelasan Mohammad Mufid dalam buku Dakwah Bil Qolam, haji dapat menjadi tidak mabrur atau mardud apabila dalam pelaksanaannya tercampur dengan hal-hal yang diharamkan atau disertai perbuatan maksiat.
Hal ini diperkuat dengan pendapat Imam Al-Ghazali dalam kitab Asrar al-Haj yang diterjemahkan oleh Mujiburrahman. Dalam sebuah hadits riwayat Abu Hurairah, Rasulullah SAW menggambarkan kondisi seseorang yang berhaji dengan cara yang tidak benar:
"Barang siapa datang ke Baitullah karena pekerjaan haram, maka ia adalah pribadi yang tidak taat kepada Allah SWT. Apabila ia bersiap berangkat, kedua kakinya menaiki kendaraan, kemudian kendaraannya berjalan dan ia berkata, 'Labbaika Allahumma Labbaik (Kami datang menyambut panggilan-Mu ya Allah, kami datang menyambut panggilan-Mu),' maka malaikat berseru dari langit menjawab, 'Tidak ada sambutan untukmu dan tidak ada kebahagiaan bagimu. Pekerjaanmu haram, pakaianmu haram, kendaraanmu haram dan perbekalanmu haram. Pulanglah kamu membawa haji mardud (ditolak), bukan haji mabrur (diterima), dan bergembiralah dengan hajimu yang buruk." (HR. Abu Hurairah)
Hadits ini menegaskan bahwa ibadah haji tidak hanya soal ritual, tetapi juga menyangkut kehalalan niat, bekal, dan perilaku selama menjalankannya.
Kesalahan yang membuat Haji Tidak Mabrur, dikutip dari buku Ensiklopedia Haji & Umrah karya KH Ahmad Chodri Romli, terdapat beberapa kesalahan yang kerap dilakukan jemaah sehingga hajinya tidak mencapai derajat mabrur:
Niat yang Tidak Lurus
Misalnya berhaji demi gengsi, pencitraan, ingin dipuji, atau mengejar status sosial.
Tidak Mengikuti Tuntunan Syariat
Seperti enggan mempelajari manasik haji atau tidak mengikuti bimbingan yang benar.
Masih Melakukan Maksiat
Kebiasaan buruk tetap dilakukan, bahkan saat menjalankan ibadah di Tanah Suci.
Tanda seseorang hajinya tidak mabrur:
Salah satu kesalahan yang paling sering terjadi adalah tidak menjaga ucapan. Dijelaskan bahwa jemaah yang masih berkata kasar atau menyakiti orang lain bisa menjadi tanda hajinya belum mabrur.
Ini menunjukkan bahwa perubahan paling mendasar dari haji justru terlihat dari cara seseorang berbicara.
Kesalahan kedua yang sering dilakukan adalah mudah menyebarkan konflik atau kebencian.
Padahal menjadi mabrur adalah harus berusaha mengubah diri sebagai pribadi yang lebih tenang, sebagian orang justru masih mudah menyebarkan konflik atau kebencian.
Sikap ini bertentangan dengan esensi haji yang mengajarkan persatuan dan kasih sayang.
Haji mabrur seharusnya menghadirkan kedamaian, bukan memperkeruh hubungan sosial.
Jika setelah pulang seseorang masih mudah tersulut emosi, maka nilai hajinya patut dipertanyakan.
Kesalahan lain yang sering luput adalah kurangnya empati terhadap sesama. Padahal, ibadah haji idealnya melahirkan pribadi yang lebih peduli dan ringan membantu orang lain.
(dis/fik)
Loading ...

9 hours ago
2

















































