Jakarta -
Media sosial belum lama ini dihebohkan dengan konten yang menampilkan orang mengonsumsi daging monyet. Selain mendapatkan kritikan keras dari publik, tak sedikit pula yang penasaran dengan daging monyet.
Persoalan konsumsi daging monyet kemudian bukan hanya soal konten ekstrem, tetapi juga risiko kesehatan yang mengintai. Pasalnya, monyet merupakan primata non-manusia yang secara biologis dekat dengan manusia.
Hal ini membuat peluang perpindahan patogen lebih tinggi dibandingkan dengan satwa lain. Daging monyet bisa membawa berbagai parasit zoonotik yang bisa menular ke manusia.
Berikut merupakan tiga risiko kesehatan utama yang bisa mengancam manusia.
1. Risiko Infeksi Saluran Cerna dan Parasit
Sebuah studi pada monyet ekor panjang di Taman Nasional Baluran, Jawa Timur menemukan bahwa 89 persen dari 100 sampel feses positif mengandung parasite gastrointestinal. Seluruh parasit yang teridentifikasi juga dinilai bisa bersifat zoonotik.
Temuan serupa juga muncul pada studi yang dilakukan di Aceh, yang mengungkapkan bahwa ada prevalensi parasit gastrointestinal yang tinggi pada monyet ekor panjang di kawasan ekowisata. Spesies parasit zoonotik yang ditemukan termasuk Oesphagostomum bifurcum dan Trichuris trichiura.
Hal ini menunjukkan adanya potensi tinggi penularan parasit di saluran cerna jika daging monyet dikonsumsi manusia, terutama jika penyembelihan tidak dilakukan dengan higienis. Konsumsi daging monyet meningkatkan risiko infeksi saluran pencernaan.
2. Risiko Penularan Penyakit dari Darah dan Cairan Tubuh
Bahaya kesehatan dari monyet tak selalu muncul dari konsumsi daging, tetapi dimulai dari tahap berburu, menyembelih, memotong, hingga membersihkan hewan untuk dikonsumsi. Deretan tahap tersebut justru menjadi titik berisiko yang bisa mengancam kesehatan.
Kontak langsung dengan darah, organ, atau cairan tubuh monyet membawa risiko penyakit menular. Centers for Disease Control and Prevention menyebut daging satwa liar meningkatkan potensi paparan patogen, terutama saat diproses secara minimal.
Oleh karena itu, persoalan daging satwa liar bukan hanya tentang konsumsi, tetapi juga proses mengolah daging tersebut. Pengolahan yang tidak higienis membawa patogen yang mengganggu kesehatan.
3. Risiko Kesehatan Publik yang Lebih Luas
Konsumsi serta penanganan primate liar kemudian tak hanya berisiko bagi individu yang mengonsumsi, tetapi juga membuka ruang penularan yang lebih luas dan bahkan lintas spesies.
Hal ini membuat konsumsi daging monyet bukan sekadar isu selera makan yang ekstrem, tetapi juga ancaman kesehatan bagi masyarakat.
Pada dasarnya, monyet sebagai satwa liar bukan merupakan hewan yang bisa dikonsumsi. Ada baiknya untuk memakan daging hewan yang kualitasnya terkontrol dan lebih jelas, seperti daging sapi hingga kambing.
(asw/dia)
Loading ...

6 hours ago
3

















































