Penjaga Batas dan Rasa di Balik Adegan Sempurna dan Sorot Kamera

6 hours ago 3

Penjaga Batas dan Rasa di Balik Adegan Sempurna dan Sorot Kamera

Di balik sorot lampu dan gemuruh kamera yang menyala, seorang intimacy coordinator hadir sebagai 'penjaga'.

Perannya seolah tersembunyi dan sunyi, tetapi sosoknya akan terlihat dalam tiap adegan yang menuntut kedekatan. Bukan sebagai pengatur teknis, melainkan perantara antara rasa dan batas.

Intimacy coordinator hadir selama dua tahun terakhir di Indonesia meski Amerika sudah memulainya lebih awal tahun 2015. Putri Ayudya secara eksklusif pada InsertLive mengatakan bahwa kehadiran profesi intimacy coordinator ini mulanya muncul sebagai praktik koordinasi keamanan lingkungan kerja di lokasi syuting.

"Intimacy coordinator ini adalah orang yang memfasilitasi pada adegan-adegan intim di film atau series. Ada juga intimacy coordinator yang bekerja untuk live performance atau teater. Keduanya punya kebutuhan sertifikasi dan pelatihan yang berbeda. Profesi ini mencuat sejak gerakan Me Too movement," kata Putri Ayudya.


"Di Indonesia sudah mulai menggunakan IC dari luar negeri sejak series Mendua. Penggunaan IC semakin marak sejak hadirnya series Main Api. Kegundahan industri tentang keamanan wilayah kerja di film semakin meningkat sejak semakin banyaknya kasus pelecehan yang diketahui. Karena itu munculnya IC ditangkap sebagai salah satu solusi yang bisa menjadi jawaban akan masalah keamanan ini," sambung Putri.

Kala Batas Bicara, Bukan Sekadar Diterka

Dalam dunia perfilman, aktor dan aktris dituntut bersifat profesionalitas tanpa kompromi. Hal ini yang membuat intimacy coordinator hadir untuk mengembalikan ruang dialog.

Para 'penjaga' ini memastikan bahwa setiap adegan yang melibatkan kedekatan fisik tidak terjadi begitu saja, melainkan melalui proses yang terstruktur dan penuh kesadaran.

"Ada beberapa tahap yang kami lakukan. Pertama adalah intimasi interview pada tahap ini kami ngobrol dengan film creator dan para aktor untuk mengetahui visi kreatif dan batasan-batasannya serta menginfokan protokol closed set. Kedua, ada intimacy workshop untuk melakukan eksplorasi batasan antara satu sama lain serta membangun trust di antara tiap pihak. Dan ketiga, adalah pendampingan di lapangan. Keempat, tentunya pembuatan laporan," tuturnya.

"Proses ini bukan sekadar teknis, melainkan perjalanan membangun kepercayaan. Dari percakapan awal hingga pendampingan langsung di lokasi, setiap tahap dirancang agar tidak ada yang merasa terpaksa atau terabaikan. Di sinilah batas bukan lagi sesuatu yang samar, melainkan dibicarakan secara terbuka," lanjutnya.

Putri Ayudya menjelaskan bahwa para intimacy coordinator ini akan membicarakan soal batasan personal tiap aktor dan aktris. Mereka akan membicarakan bahwa tidak semua adegan harus dikoreografikan.

"Adegan yang di koreografi kan biasanya yang tidak tertulis secara detail di dalam naskah atau yang ingin diubah sesuai dengan tujuan cerita. Koreografi dibuat cukup detail terkait dengan gerakan dan ekspresi yang dituju namun tidak melibatkan emosi tokoh yang sebenarnya," bebernya.

"Dalam praktiknya, adegan intim tidak selalu harus dipetakan secara kaku. Namun ketika diperlukan, koreografi menjadi alat untuk menjaga jarak emosional sekaligus memastikan adegan tetap sesuai dengan visi cerita tanpa melanggar batas personal," lanjutnya.

Dalam hal ini, esensi perlindungan para aktor dan aktris akan mulai terasa di mana dunia akan sering menuntut kepastian, fleksibilitas consent yang menjadi napas baru.

"Salah satu proses kami adalah intimacy interview. Pada tahap ini, IC bertemu dengan pemain, one-on-one. Harapannya jadi tidak ada relasi kuasa dengan film creator atau aktor lain yang lebih dominan. Kami bicara heart to heart dan juga menentukan atau bahkan menemukan batasan personal dari tiap aktor," papar Putri.

"Ini adalah salah satu keterampilan yang harus dimiliki oleh IC dalam melakukan assessment. Hasil interview dirangkum dalam intimacy riders. Yang diketahui dan disepakati oleh sutradara, produser, dan aktor bersangkutan. Consent bersifat reversible sehingga boleh saja berubah ketika situasi juga berubah. Pernah ada kejadian Talent mengubah consentnya mendekati syuting. Tentu saja ini boleh dengan konsekuensi tertentu. Misalnya kita harus mendiskusikan kembali adegan dan memperbaiki intimacy riders di atas kertas secara tertulis," lanjut Putri lagi.

Tak Sekadar Buat Karya, Giliran Industri yang Menjaga

Sering waktu, industri film Indonesia mulai bergerak perlahan menuju standar yang lebih sadar akan keamanan. Bukan lagi bicara soal kualitas produksi tapi tentang bagaimana manusia di dalamnya diperlakukan.

Menurut Putri, belum semua rumah produksi sadar pentingnya sosok intimacy coordinator karena kerap muncul stigma negatif soal kehadiran 'penjaga' tersembunyi ini.

"Tentunya belum semua menggunakannya karena selalu ada implikasi produksi seperti budget, waktu, dan energi untuk kebutuhan ini. Stigma negatif tetap ada namun kami bersyukur sekali bahwa banyak juga yang memberikan respons positif. Mulai dari penerapan keamanan yang semakin tertib, budaya respect yang semakin berkembang, dan semakin banyak jumlah permintaan terhadap keterlibatan IC dalam produksi," kata Putri.

"Perubahan memang tidak datang sekaligus. Masih ada resistensi, masih ada keraguan. Namun di sisi lain, kesadaran mulai tumbuh—bahwa rasa aman bukan penghambat kreativitas, justru fondasi dari karya yang lebih sehat," sambungnya.

Indonesia sendiri, kata Putri, dinilai cukup terbuka. Hasil pertemuan dengan sejumlah intimacy coordinator di Asia menjelaskan bahwa Indonesia termasuk yang paling banyak permintaan untuk IC di produksi series maupun film.

Keterbukaan ini menjadi sinyal bahwa industri lokal tak tertinggal tetapi memiliki dorongan kuat untuk mengikuti standar global, khususnya di era platform digital yang menuntut profesionalisme lebih tinggi.

"Ada wacana untuk membuat IC menjadi standar keamanan produksi di beberapa asosiasi dan institusi film Indonesia. Saat ini OTT seperti Netflix dan WeTV sudah menerapkan standar prosedur ini. Harapan kami semakin banyak yang paham protokol, mau menerapkannya, dan ada guidelines serta peraturan pemerintah tentang keamanan untuk adegan intim dalam dunia hiburan," tuturnya.

"Harapan itu perlahan menemukan jalannya. Ketika platform global mulai menerapkan standar ini, industri lokal pun terdorong untuk mengikuti bukan sekadar karena tuntutan, tapi karena kebutuhan," sambungnya.

Meski kehadiran intimacy coordinator pada akhirnya bukan hanya soal ada atau tidak, profesi ini menjadi simbol dari perubahan cara pandang bahwa di balik tiap adegan ada manusia yang harus dihormati, dijaga, serta didengarkan.

"Sama seperti 3 tahun lalu dan berkembang dari situ. Bila ada yang care dan mau menerapkan protokol, bisa saja keamanan tetap terjaga," pungkas Putri Ayudya.

Loading ...

Read Entire Article
Industri | Energi | Artis | Global