Perjalanan Seni Yusuf Jaka dari Teater 90an hingga Bertahan di Era Konten Digital

2 hours ago 3

Jakarta -

Yusuf Jaka membagikan cerita tentang perjalanan panjangnya di dunia seni peran. Sudah terjun sejak era 1990-an, ia merasakan langsung bagaimana perubahan besar terjadi dalam industri hiburan, mulai dari cara kerja hingga sistem honor para pekerja seni.

Saat ditemui di Trans TV, pada Rabu (11/3), Yusuf Jaka mengaku aktivitasnya di bulan Ramadan tahun ini tidak terlalu padat. Ia mengatakan belum ada proyek sinetron maupun teater yang sedang dijalani.

"Alhamdulillah di 2026 ini kesibukan aku, ya tepatnya di bulan ini, ya tarawih aja. Sebab sinetron atau apalagi belum ada, terus apa teater tradisi maupun teater modern juga sekarang-sekarang ini belum, mungkin habis Lebaran," ujarnya.

Terakhir kali Yusuf Jaka terlibat dalam proyek akting adalah saat bermain film bersama grup komedi GJLS dan komedian Sule. Setelah itu, ia belum kembali menjalani syuting.


"Terakhir layar lebar GJLS waktu itu, terus sama Sule juga. Terakhir itu aja," katanya.

Sebagai aktor yang sudah berkarya sejak era 1990-an, Yusuf Jaka merasakan perubahan besar dalam dunia hiburan Indonesia.

Ia menyebut perbedaan paling mencolok terlihat dari teknologi produksi hingga sistem bayaran bagi para pemain.

Menurutnya, proses produksi di masa lalu jauh lebih berat karena peralatan yang digunakan berukuran besar dan sulit dipindahkan.

"Kerjanya juga lebih berat juga dulu kan. Contoh kecil, dulu lampu tuh gede-gede banget, sekarang kan bisa ditenteng-tenteng, kecil-kecil. Jadi kerjanya juga berat," jelasnya.

Tak hanya soal alat produksi, perubahan juga terasa pada sistem honor para pemain. Yusuf Jaka menilai pendapatan pekerja seni kini tidak selalu lebih besar dibanding masa lalu.

"Kalau dibandingin sama sekarang, nggak sampai 50 persen. Dulu kecil tapi bisa besar. Kalau sekarang beda, dari kecil ciut. Di todong, mau nggak lu segini, kalau nggak gua kemariin. Terus sekarang jadi kita nego-negoan," ungkapnya.

Meski demikian, ia memilih untuk tetap bersyukur atas setiap pekerjaan yang datang.

"Tapi berapapun ya berapapun, dalam keadaan apapun, saya syukuri aja," katanya.

Di tengah perkembangan media sosial dan konten digital seperti YouTube maupun podcast, Yusuf Jaka mengaku tidak terlalu aktif membuat konten seperti kreator masa kini. Ia lebih memilih berkarya dengan caranya sendiri.

"Aku sih cuma nyanyi-nyanyi aja, buat menghibur diri," ujarnya.

Ia juga mengamati banyak rekan seprofesinya yang kini lebih memilih membuat konten di media sosial karena dianggap lebih menguntungkan dibanding bermain sinetron.

"Misalkan anaknya dia udah orang gogor, terus main sinetron. Terus dengan honor yang sekian, apa dengan gua main TikTok gitu," katanya.

Perjalanan Yusuf Jaka di dunia hiburan sebenarnya berawal dari teater. Ia bahkan sempat tidak tertarik bermain sinetron karena merasa dunia teater adalah tempatnya berkarya.

Namun, perlahan arah kariernya berubah setelah ia mencoba menjadi figuran dalam sebuah produksi.

"Dulu juga saya nggak berminat main sinetron. Dulu saya berteater, ya berteater aja. Tapi akhirnya memang arahnya ke sana ada," tuturnya.

Pengalaman penting lainnya datang ketika ia terlibat dalam festival lenong yang mempertemukan teater modern dengan seni tradisional Betawi.

"Nah itu akhirnya alhamdulillah dari festival Lenong Rumpi. Juara sih enggak, tapi dari pihak panitia suka dengan anak-anak kita," katanya.

Melalui pengalaman tersebut, ia belajar banyak tentang berbagai bentuk seni pertunjukan seperti lenong, topeng, dan teater tradisi.

Di usianya saat ini, Yusuf Jaka mengaku tidak memiliki target pencapaian karier tertentu. Baginya, semua yang ia dapatkan selama ini sudah menjadi hal yang patut disyukuri.

"Saya merasa sudah tercapai. Apa yang saya dapet pokoknya saya syukuri aja," ujarnya.

Namun, ada satu impian pribadi yang masih ingin ia wujudkan.

"Impian, gue belum menggendong cucu," katanya sambil tersenyum.

Di akhir perbincangan, Yusuf Jaka memberikan pesan kepada generasi muda yang ingin berkarya di dunia seni. Ia menekankan pentingnya latihan dan kedisiplinan dalam menjalani profesi apa pun.

"Kalau yang mau belajar di kesenian, belajarlah yakin dengan latihan. Dan mau jadi apapun kita harus disiplin," pesannya.

Ia bahkan menyampaikan pesan tersebut dengan cara yang cukup unik.

"Lu mau jadi copet, lu mau jadi korupsi, kalau disiplin jadi. Lu mau berkarya di kesenian, kalau disiplin dengan latihan, insyaallah jadi," katanya.

Bagi Yusuf Jaka, kunci utama seorang seniman adalah terus berkarya. Sebab menurutnya, berhenti berkarya sama saja dengan berhenti hidup sebagai seniman.

"Kalau lu mau jadi orang seni ya lu harus total. Kalau lu nggak berkarya, lu mati," tutupnya.

(ikh/and)

Loading ...

Read Entire Article
Industri | Energi | Artis | Global