Jakarta -
Belanja baju thrifting semakin diminati, terutama di kalangan anak muda yang gemar berburu fashion unik dengan harga lebih terjangkau. Selain bisa menemukan item bermerek atau model vintage yang sulit dijumpai di toko biasa, thrifting juga sering dianggap sebagai cara belanja yang lebih hemat sekaligus ramah lingkungan.
Meski terlihat menguntungkan, membeli pakaian bekas juga punya sisi lain yang perlu dipertimbangkan. Mulai dari kondisi barang, kebersihan, hingga soal kualitas yang tidak selalu konsisten. Supaya tidak hanya tergoda harga murah atau model yang menarik, penting untuk memahami lebih dulu apa saja keuntungan dan kekurangan membeli baju thrifting. Berikut penjelasannya oleh Insertlive.
Apa itu Thrifting?
Thrifting adalah aktivitas mencari atau membeli barang bekas yang masih layak pakai, baik dari toko khusus secondhand, pasar loak, bazar preloved, maupun platform jual beli online. Menurut Cambridge Dictionary, thrifting merujuk pada kebiasaan membeli barang bekas seperti pakaian, buku, hingga furnitur.
Sementara Merriam-Webster Dictionary juga menjelaskan thrifting sebagai aktivitas berbelanja barang secondhand, terutama di tempat yang memang menjual koleksi bekas pakai. Dalam dunia fashion, thrifting bukan cuma soal membeli pakaian murah, tetapi juga tentang menemukan gaya personal lewat item-item yang unik, vintage, atau bahkan sudah tidak diproduksi lagi.
Tak heran jika tren ini diminati oleh banyak kalangan. Ada yang thrifting demi berhemat, ada yang mencari fashion statement berbeda, dan ada juga pelaku bisnis yang menjadikannya peluang usaha melalui penjualan ulang barang preloved berkualitas.
Kelebihan Thrifting Baju
1. Ramah Lingkungan
Salah satu alasan thrifting semakin populer adalah dampaknya yang lebih ramah lingkungan. Industri fashion, terutama fast fashion, dikenal menghasilkan limbah tekstil dalam jumlah besar, memakai banyak air dalam proses produksi, serta berkontribusi pada polusi.
Dengan membeli pakaian bekas yang masih layak pakai, siklus hidup sebuah produk jadi lebih panjang. Artinya, pakaian tersebut tidak langsung berakhir di tempat pembuangan sampah. Kebiasaan sederhana seperti ini ikut membantu mengurangi limbah fashion sekaligus menekan kebutuhan produksi pakaian baru.
Selain itu, thrifting juga mendukung konsep sustainable fashion, yaitu pola konsumsi yang lebih bertanggung jawab terhadap lingkungan.
2. Lebih Hemat
Harga pakaian adalah salah satu daya tarik utama thrifting. Banyak pakaian dengan kualitas bagus, bahkan dari brand ternama, bisa didapat dengan harga jauh lebih murah dibanding membeli baru.
Bagi yang ingin tampil stylish tanpa menguras dompet, thrifting jelas jadi solusi menarik. Kadang ada juga item berbahan premium seperti denim tebal, sweater rajut berkualitas, atau jaket kulit yang nilainya terasa lebih worth it dibanding harga belinya. Jika teliti saat memilih, bukan tidak mungkin menemukan barang berkualitas tinggi dengan harga yang sangat terjangkau.
3. Mendorong Gaya Hidup Minimalis
Thrifting sering dikaitkan dengan kebiasaan belanja yang lebih sadar kebutuhan. Saat memilih barang bekas, seseorang biasanya lebih fokus pada fungsi, kualitas, dan kegunaan dibanding sekadar mengikuti tren.
Pola pikir seperti ini bisa membantu mengurangi kebiasaan belanja impulsif. Daripada terus membeli barang baru yang belum tentu dibutuhkan, thrifting mengajak untuk lebih bijak dalam memilih apa yang benar-benar berguna.
Gaya hidup minimalis sendiri bukan berarti berhenti belanja, tetapi lebih kepada membeli dengan pertimbangan matang. Dalam konteks ini, thrifting bisa jadi salah satu langkah kecil menuju konsumsi yang lebih mindful.
Kekurangan Thrifting Baju
1. Tidak Selalu Tahan Lama
Karena merupakan barang bekas pakai, kualitas pakaian thrift tentu sangat bervariasi. Ada yang masih prima, tetapi ada juga yang sudah mengalami penurunan kualitas karena usia penggunaan.
Beberapa masalah yang sering ditemui antara lain kain mulai menipis, warna memudar, elastisitas berkurang, hingga jahitan yang mulai longgar. Apalagi jika barang tersebut berasal dari produk fast fashion yang memang dari awal tidak dirancang untuk pemakaian jangka panjang. Selain kondisi fisik, faktor kebersihan juga perlu jadi perhatian. Pakaian thrift sebaiknya dicuci bersih terlebih dahulu sebelum dipakai untuk memastikan higienitasnya.
Karena itu, ketelitian jadi kunci utama saat thrifting. Semakin jeli memeriksa detail barang, semakin besar peluang mendapatkan item yang benar-benar layak pakai dan sesuai ekspektasi, sehingga tidak akan kecewa setelah dipakai.
2. Tidak Semua Bisa Dijual Kembali
Bagi pelaku usaha thrift, tidak semua stok barang otomatis menguntungkan. Saat membeli dalam jumlah besar dari supplier, sering kali kualitas barang datang secara campur aduk.
Pasti ada saja pakaian yang masih sangat layak jual, tetapi ada juga yang ternyata sobek, bernoda permanen, modelnya kurang diminati, atau kondisinya sudah tidak pantas dipasarkan. Barang-barang seperti ini akhirnya sulit dijual kembali dan justru berpotensi menjadi limbah. Jadi, meski terlihat menjanjikan sebagai bisnis, thrifting tetap punya risiko kerugian.
3. Dijual dengan Harga Lebih Tinggi
Ironisnya, tren thrifting yang awalnya identik dengan belanja hemat kini kadang justru menghadirkan harga cukup tinggi, terutama untuk item branded, vintage original, atau model yang sedang hype.
Permintaan pasar yang meningkat membuat beberapa penjual menaikkan harga cukup signifikan. Meski masih lebih murah dibanding barang baru, selisihnya kadang tidak terlalu jauh. Hal ini membuat konsep thrifting sebagai alternatif fashion murah perlahan berubah, khususnya untuk koleksi tertentu yang dianggap langka atau punya nilai eksklusif.
(ikh/ikh)
Loading ...

6 hours ago
4
















































